MAN 3
Kebumen kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat kabupaten. Dalam
ajang Festival English Speech yang merupakan rangkaian kegiatan IAINU Youth
Festival dalam rangka Harlah IAINU ke-47, MAN 3 Kebumen berhasil meraih Juara 3.
Perlombaan
tersebut dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, bertempat di Institut Agama
Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen. Lomba English Speech ini diikuti oleh 18
peserta dari berbagai SMA, SMK, dan MA negeri maupun swasta se-Kabupaten
Kebumen, sehingga persaingan berlangsung cukup ketat dan kompetitif.
Pada
kesempatan ini, MAN 3 Kebumen mengirimkan dua orang perwakilan siswa terbaik
yang didampingi oleh Ibu Partini, S.Pd. selaku pembina. Keberhasilan dan
partisipasi para siswa tidak lepas dari peran beliau sebagai mentor yang
senantiasa memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi, mulai dari proses
persiapan materi pidato, pelatihan pengucapan (pronunciation), hingga
pembekalan mental dan kepercayaan diri peserta.
Perwakilan
pertama adalah Rizki Nur Aisyah, siswi kelas XII B, yang menyampaikan pidato
berbahasa Inggris dengan tema kesadaran ekologi dan kepedulian terhadap
lingkungan. Dalam pidatonya, Rizki mengajak generasi muda untuk lebih peduli
terhadap lingkungan sebagai upaya pencegahan berbagai bencana. Ia menekankan
pentingnya aksi nyata seperti menjaga kebersihan rumah dan sekolah, berhemat
air dan listrik, menanam serta merawat tanaman, serta mengajak masyarakat untuk
mencintai lingkungan dari perspektif nilai-nilai Islam. Berkat penampilan yang
meyakinkan, Rizki Nur Aisyah berhasil meraih Juara 3 Festival English Speech.
Perwakilan
kedua adalah Arum Triatuzzahro, siswi kelas X I, yang membawakan pidato dengan
tema etika bermedia sosial (digital ethic). Dalam pidatonya, Arum menekankan
pentingnya sikap tabayyun dalam menerima dan membagikan informasi, menggunakan
media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat, menghindari cyber bullying, serta
mengajak generasi muda menjadi agent of peace yang tidak mudah terpancing
perbedaan pendapat. Pesan-pesan tersebut juga diperkuat dengan sudut pandang
Islam. Meskipun pada kesempatan ini Arum belum berhasil meraih kejuaraan,
keikutsertaannya menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk menambah
wawasan, melatih kemampuan berbahasa Inggris, serta sebagai bagian dari proses regenerasi
dan pencarian bakat siswa, mengingat Arum masih duduk di kelas X.
Lomba
English Speech ini berlangsung dengan format yang menantang. Setiap peserta
terlebih dahulu menyampaikan pidato dalam Bahasa Inggris, kemudian dilanjutkan
dengan sesi tanya jawab dari tiga orang dewan juri, yang seluruhnya juga
dilakukan dalam Bahasa Inggris. Hal ini menuntut peserta tidak hanya mahir
berpidato, tetapi juga mampu berpikir kritis dan berkomunikasi secara spontan
dalam Bahasa Inggris.